Home / Sulsel

Jumat, 21 Agustus 2026 - 20:08 WIB

Ultimatum Appi: Kepala OPD Bukan “Tukang Stempel”, Harus Kuasai Program & Eksekusi

Rapat Monitoring dan Evaluasi (Monev) pelaksanaan program dan kegiatan Pemerintah Kota Makassar di Balai Kota Makassar

Rapat Monitoring dan Evaluasi (Monev) pelaksanaan program dan kegiatan Pemerintah Kota Makassar di Balai Kota Makassar

LINTASCELEBES.COM MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin alias Appi, memberikan peringatan keras kepada seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar tidak sekadar menjadi “tukang stempel” dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program pemerintah.

Menurutnya, kepala OPD harus mengetahui secara utuh program yang dipimpinnya, bukan hanya menerima dokumen yang telah disiapkan bagian perencanaan kemudian memberikan tanda tangan.

“Jangan sampai kita bekerja di masa satu OPD terpengaruh, bisa berjalan otaknya hanya satu kepala bagian perencanaan yang mengatur ini dari tahun ke tahun,” ujarnya, Jumat (21/8/2026).

“Kepala OPD-nya jangan saja menjadi tukang stempel, tanda tangan dengan keadaan yang sudah dibuat dari tahun ke tahun,” tambah Appi.

Munafri meminta kepala OPD terlibat langsung sejak tahap perencanaan, memastikan setiap program yang masuk dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) benar-benar siap dilaksanakan.

Serta memiliki dokumen pendukung, realistis dari sisi target, serta mampu memberikan manfaat kepada masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Munafri saat merespon serapan anggaran renda pada rapat Monitoring dan Evaluasi (Monev) pelaksanaan program dan kegiatan Pemerintah Kota Makassar di Balai Kota Makassar.

“Masalah utama, pada tahap perencanaan ini selalu menjadi basic dari segalanya,” tegas Munafri, dikonfirmasi ulang.

Menurut Appi, persoalan rendahnya serapan anggaran tidak selalu bermula ketika proses belanja sudah berjalan.

Justru, banyak masalah sudah muncul sejak tahap paling awal, yakni ketika perencanaan disusun tanpa memperhitungkan kesiapan eksekusi.

Ia mengatakan, setiap kegiatan yang telah masuk dalam DPA harus terlebih dahulu diuji apakah benar-benar ready to execute atau siap dieksekusi.

Jangan sampai kegiatan sudah dianggarkan, tetapi masih menunggu berbagai faktor pendukung, mulai dari material yang belum tersedia, dokumen teknis yang belum lengkap, desain yang belum final, hingga persoalan lokasi dan perizinan.

Oleh sebab itu, orang nomor satu Kota Makassar itu menyoroti pentingnya kepemimpinan dan kedisiplinan kepala kepala OPD dalam menjalankan tugas.

Ia meminta para kepala Dinas tidak hanya hadir secara administratif, tetapi benar-benar menjalankan tanggung jawab sebagai pimpinan yang menjadi teladan bagi seluruh jajaran.

“Pekerjaan menjadi kepala OPD bukan pekerjaan nyambi. Ini pekerjaan yang sangat penting, vital, menyangkut kehidupan orang banyak, menyangkut kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Ia mengingatkan seluruh kepala SKPD, agar tidak hanya menjadi “tukang stempel” yang menyerahkan seluruh pemahaman teknis kepada bawahannya.

“Kita habis monev, syaa tidak mau kepala SKPD, kepala puskesmas juga cuma jadi tukang stempel. Yang mengerti detailnya adalah kepala bagian perencanaannya yang bisa mengendalikan semuanya. Kepala dinasnya sisa plak-stempel,” sindir Appi.

Munafri menyoroti kebiasaan sebagian OPD yang cenderung mengulang pola perencanaan dari tahun ke tahun tanpa melakukan evaluasi mendalam terhadap kegagalan atau keterlambatan sebelumnya.

Ia meminta kepala OPD memastikan setiap program disusun berdasarkan kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar mengikuti pola anggaran sebelumnya.

Selain itu, setiap kegiatan harus memiliki desain, dokumen teknis, kesiapan lokasi, target fisik dan target keuangan yang realistis.

Dia juga meminta agar kegiatan yang sejak awal diketahui sulit direalisasikan tidak dipaksakan masuk dalam anggaran.

Sebab, menurutnya, memaksakan program yang belum siap justru berpotensi membuat kualitas kegiatan menurun sekaligus menghasilkan serapan yang rendah.

“Jangan sampai karena mau mengejar tambahan, anggaran di tempatnya besar, akhirnya kegiatan-kegiatannya juga tidak berkualitas. Sisa lagi serapannya, kan jadi repot,” ujarnya.

Ia menegaskan, besarnya anggaran tidak otomatis menunjukkan kualitas penganggaran.

“Anggaran yang besar tapi dokumen kesiapannya belum tersedia ini merupakan quality of budgeting, bukan semata-mata persoalan pelaksanaan,” ungkap Munaf.(Sir)

Editor: Syafruddin Menroja

Share :

Baca Juga

Sulsel

DPRD Belitung Studi Banding Sistem Manajemen ASN di Sinjai

Sulsel

Bupati Gowa Hadiri Pelepasan Kontingen Sulsel Menuju Raimuna Nasional dan Peringatan Hari Pramuka

Sulsel

LBH Jakarta Ungkap Potensi Penyimpangan Proyek Rp87 M di UNM

Sulsel

Cepat dan Transparan Disperkim Makassar Terima Aduan Warga Melalui Lontara+

Sulsel

Hadiri Adhyaksa Gowa Fun Run, Bupati Adnan Kenalkan Jogging Track Lapangan Syekh Yusuf

Sulsel

Polantas Polres Wajo Gelar “Polantas Menyapa”, Berikan Sarapan dan Edukasi Keselamatan Berlalu Lintas

Sulsel

Tahun Ini Pemkab Sinjai Akan Bangun 8 Paket Jalan Tani

Sulsel

Fatmawati Rusdi Hadiri Khitanan Massal Masjid Multazam, Tingkatkan Kepedulian Warga