LINTASCELEBES.COM MAKASSAR — Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kota Makassar, Mahyuddin, melontarkan ajakan sederhana tapi menyentuh nadi pembangunan: “Tertib Pajaknya, Mulia Warganya.”
Makassar sore itu bergerak pelan, seperti menahan napas di antara gedung-gedung yang terus meregang ke langit. Di tengah ritme kota yang tak pernah benar-benar diam.
Ucapan itu melayang seperti semboyan baru di jalan-jalan kota. Mahyuddin berbicara bukan sekadar mengisi acara, tetapi mengingatkan warga bahwa Tax Award 2025 yang digelar Bapenda bukan lomba, bukan pula seremoni belaka, melainkan ukuran kecil dari sebuah komitmen besar.
Pajak yang dibayarkan warga, menurutnya, adalah bahan baku utama yang menggerakkan mesin pembangunan Makassar.
Di lorong-lorong pemukiman, suara seruan itu mungkin terdengar sepele, tetapi dampaknya terasa pada pengerjaan drainase yang lebih rapi, perbaikan rumah layak huni, hingga jalan-jalan lingkungan yang tak lagi disergap gelap. Mahyuddin tahu betul titik-titik lemah kota ini; ia setiap hari bersentuhan dengan persoalan rumah, hunian, dan ruang hidup warga.
Baginya, pajak bukan sekadar angka di lembar laporan itu nafas bagi kota yang ingin berubah.
“Masyarakat harus melihat pajak sebagai cara paling nyata menjaga Makassar tetap maju,” ujarnya, Rabu (10/12/2025).
Ada kesan ia ingin membalas kepercayaan warga dengan hasil yang bisa disentuh, dilihat, dirasakan: lampu penerangan baru di pinggir kanal, betonisasi yang tak lagi menunggu bertahun-tahun, hingga lingkungan yang lebih tertata bagi keluarga yang pulang kerja dengan harapan sederhana.
Tax Award 2025 adalah panggung apresiasi, tetapi juga cermin. Siapa yang taat, siapa yang abai, siapa yang ikut merawat kota, semuanya tercatat tanpa perlu saling menghakimi. Yang ingin ditegaskan Mahyuddin hanyalah satu: pembangunan tak lahir dari keajaiban, melainkan dari partisipasi.
Ketika matahari turun di balik gedung Balaikota, semboyan itu kembali terngiang—ringkas, tapi menggugah. “Tertib Pajaknya, Mulia Warganya.” Sebuah pesan bahwa masa depan Makassar bukan hanya pekerjaan pemerintah, tapi gotong royong yang ditawarkan kembali kepada seluruh warganya. (*Sir).
Editor: Hamzah












