Home / Sulsel

Kamis, 9 April 2026 - 14:16 WIB

Sutera Wajo di Tangan Ibu Persit: Merawat Tradisi, Memperkuat Ekonomi

Di tengah gempuran tekstil modern buatan pabrik, deru mesin tenun tradisional masih nyaring terdengar di Kabupaten Wajo. Adalah Ibu Masniati, seorang pengrajin sekaligus anggota Persit KCK Cabang XXIV Dim 1406, yang menjadi salah satu pilar pelestari kain sutera khas Wajo warisan budaya yang kini menjadi simbol identitas dan kebanggaan Sulawesi Selatan

Di tengah gempuran tekstil modern buatan pabrik, deru mesin tenun tradisional masih nyaring terdengar di Kabupaten Wajo. Adalah Ibu Masniati, seorang pengrajin sekaligus anggota Persit KCK Cabang XXIV Dim 1406, yang menjadi salah satu pilar pelestari kain sutera khas Wajo warisan budaya yang kini menjadi simbol identitas dan kebanggaan Sulawesi Selatan

LINTASCELEBES.COM WAJO – Di tengah gempuran tekstil modern buatan pabrik, deru mesin tenun tradisional masih nyaring terdengar di Kabupaten Wajo. Adalah Ibu Masniati, seorang pengrajin sekaligus anggota Persit KCK Cabang XXIV Dim 1406, yang menjadi salah satu pilar pelestari kain sutera khas Wajo warisan budaya yang kini menjadi simbol identitas dan kebanggaan Sulawesi Selatan.

Ibu Masniati, istri dari Sertu Suparto Patopoi (Anggota Kodim 1406/Wajo), membuktikan bahwa peran seorang istri prajurit mampu memberi dampak nyata bagi ekonomi kreatif dan pelestarian budaya daerah. Bagi Masniati, menenun bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan sebuah misi untuk menjaga jati diri bangsa.

Kain sutera Wajo hasil karya Masniati dikenal memiliki kualitas premium dengan motif yang sarat akan kearifan lokal. Proses produksinya tetap setia pada teknik tradisional, mulai dari pemilihan benang hingga ketelitian jemari dalam menenun yang memakan waktu lama.

Di tengah gempuran tekstil modern buatan pabrik, deru mesin tenun tradisional masih nyaring terdengar di Kabupaten Wajo. Adalah Ibu Masniati, seorang pengrajin sekaligus anggota Persit KCK Cabang XXIV Dim 1406, yang menjadi salah satu pilar pelestari kain sutera khas Wajo warisan budaya yang kini menjadi simbol identitas dan kebanggaan Sulawesi Selatan

“Ini bukan hanya tentang membuat kain, tetapi tentang menjaga jati diri dan warisan nenek moyang agar tetap hidup untuk generasi yang akan datang,” ungkap Masniati saat ditemui di kediamannya.

Keaktifan Masniati di organisasi Persit KCK Koorcab Rem 141 PD XIV/Hasanuddin juga dimanfaatkannya untuk menginspirasi sesama anggota. Ia aktif mendorong pemberdayaan ekonomi keluarga melalui kemandirian kreatif. Upayanya ini selaras dengan program pemerintah dalam mencintai produk dalam negeri dan memperkuat UMKM sektor kriya.

Sutera Wajo sendiri kini bukan lagi sekadar pakaian adat, melainkan komoditas yang telah menembus pasar nasional hingga mancanegara. Keunikan motif geometris dan warna khasnya menjadikan produk ini buruan kolektor kain nusantara.

Dukungan dari keluarga besar Kodim 1406/Wajo dan organisasi Persit menjadi bahan bakar bagi Masniati untuk terus berkarya. Upaya ini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.

Melalui tangan dingin Ibu Masniati, selembar sutera Wajo tidak hanya menjadi komoditas ekonomi, tetapi juga menjadi media penyampai pesan sejarah bahwa warisan budaya Wajo akan tetap bersinar meski zaman terus berganti.(r)

Editor: Hamzah

Share :

Baca Juga

Sulsel

Pemprov Sulsel Beri Subsidi Tiket Penerbangan, Susi Pudjiastuti: Pak Gubernur Luar Biasa

Sulsel

“Sedekah Jumat”, At-taubah Peduli dan Jurnalis Wajo Kembali Santuni Puluhan Anak Yatim di Wajo

Sulsel

Pastikan OPD Dukung Program PKK, Sofha Marwah Pimpin Langsung Rapat Koordinasi Sinergitas

Sulsel

Sekretaris Bapenda Makassar Pimpin Rapat Monev Realisasi Pendapatan dan Keuangan Triwulan II

Sulsel

Tanggap Bencana, Beni Iskandar Turun Langsung Salurkan Bantuan di 3 Lokasi

Sulsel

PJ Sekda Pimpin Bersih-Bersih TPA Antang, Persiapan Penilaian Adipura 2023

Sulsel

Sinergi Politik Makin Erat, Munafri Jaga Soliditas Bareng Hanura

Sulsel

Bapenda Makassar: “Opsen” Pajak Kendaraan, Bisa Tembus Rp400 Miliar