LINTASCELEBES.COM WAJO -– Suasana khidmat menyelimuti Ruang Pola Kantor Bupati Wajo saat Wakil Ketua I DPRD Wajo, Andi Merly Iswita, berdiri di podium untuk membacakan risalah sejarah pada peringatan Hari Jadi Wajo (HJW) ke-627, Kamis (9/4/2026). Di hadapan Gubernur Sulawesi Selatan dan jajaran pejabat nasional, narasi yang dibawakan Politisi PAN ini seolah menghidupkan kembali memori kolektif tentang jati diri Bumi Lamaddukelleng.
Dalam penyampaiannya, Andi Merly merunut kembali asal-usul penetapan HJW yang diinisiasi oleh Bupati Wajo ke-8, Dahlan Maulana. Ia mengisahkan bagaimana sejarah Wajo dirumuskan melalui diskusi panjang para budayawan, cendekiawan, dan tokoh masyarakat dalam seminar besar pada 23 Januari 1995.
“Sejarah ini bukan sekadar deretan angka, melainkan tentang merawat ingatan kolektif masyarakat agar tidak hilang ditelan zaman,” ujar Andi Merly dengan nada mantap.
Puncak narasi sejarah tersebut tertuju pada pemilihan tanggal 29 Maret sebagai hari jadi, yang merujuk pada peristiwa heroik tahun 1741. Saat itu, Arung Palakka La Maddukkelleng bersama rakyat Wajo berdiri tegak melawan kolonialisme Belanda. Momen tersebut dipandang sebagai titik tertinggi harga diri, keberanian, dan tekad menuju kemerdekaan yang menjadi fondasi karakter masyarakat Wajo hingga saat ini.
Kehadiran Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi, serta para kepala daerah tetangga menambah bobot refleksi dalam peringatan tersebut. Andi Merly menekankan bahwa peringatan ke-627 ini harus menjadi ruang bagi generasi muda untuk bercermin pada semangat juang para pendahulu.
Usai membacakan risalah, Andi Merly menutup dengan ucapan selamat kepada seluruh masyarakat Wajo. Ia berharap agar kemajuan yang dicapai Kabupaten Wajo saat ini tetap berpijak pada akar budaya dan nilai-nilai perjuangan.
“Wajo bukan hanya tentang masa kini, melainkan tentang perjalanan panjang yang dibangun dari semangat perlawanan. Daerah yang besar adalah daerah yang tidak pernah lupa dari mana ia berasal,” pungkasnya.
Peringatan HJW ke-627 ini pun menjadi ajang peneguhan identitas, di mana sejarah masa lalu bersenyawa dengan visi pembangunan masa depan yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Wajo.(r/Adv)














