LINTASCELEBES.COM WAJO — Puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Tolak Eksploitasi Daerah (ALMAMATER) menggelar aksi unjuk rasa di depan Bundaran BNI dan kantor PT GSI guna menuntut transparansi aktivitas hulu migas di Blok Sengkang, Selasa (17/03/2026).
Aksi yang dimulai sejak pagi hari ini memuncak dengan penyegelan kantor PT GSI oleh massa demonstran. Langkah drastis ini diambil setelah pihak perusahaan dinilai enggan menemui perwakilan aliansi untuk melakukan dialog terbuka.
“Ini adalah murni aspirasi masyarakat yang merasa hak-haknya diabaikan. Karena tidak ada satu pun pihak PT GSI yang bersedia menerima kami, maka kantor ini kami segel. Kami melarang segala bentuk aktivitas sebelum ada pertemuan resmi dengan aliansi,” tegas Supris, koordinator lapangan ALMAMATER di lokasi aksi.
Dalam orasinya, Ardiansyah selaku orator aksi menyoroti dugaan pelanggaran regulasi. Ia menyebut PT GSI telah lalai dalam mengindahkan aturan teknis yang ditetapkan oleh SKK Migas terkait proses survei seismik di wilayah tersebut.
“PT GSI terkesan tertutup dan tidak mengindahkan regulasi SKK Migas. Kami menuntut penghentian sementara seluruh aktivitas seismik sampai ada kesepakatan tertulis dengan masyarakat dan pemerintah daerah,” teriak Ardiansyah di tengah massa.
Berdasarkan dokumen pernyataan sikap resmi tertanggal 17 Maret 2026, ALMAMATER membawa sejumlah tuntutan krusial, di antaranya, mendesak perusahaan melibatkan SDM lokal dalam operasional, eminta pemberdayaan pengusaha lokal sebagai mitra kerja dan menuntut jaminan pemulihan dan perlindungan lingkungan hidup pasca-survei.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen PT GSI belum memberikan keterangan resmi maupun tanggapan terkait tuntutan massa serta status penyegelan kantor mereka. Aparat kepolisian setempat terus berjaga di lokasi untuk memastikan situasi tetap terkendali.(r/c)












