Home / Artikel

Kamis, 5 Juni 2025 - 13:07 WIB

TMMD 124 Kodim 1406/Wajo: Membangun Dari Hati, Ketika TNI dan Rakyat Bersatu di Temmabarang

Suasana Satgas TMMD saat melaksanakan pengerjaan talud, yang merupakan salah satu program TMMD ke-124 Kodim 1406/Wajo

Suasana Satgas TMMD saat melaksanakan pengerjaan talud, yang merupakan salah satu program TMMD ke-124 Kodim 1406/Wajo

Penulis: Firmansyah

LINTASCELEBES.COM WAJO — Kabupaten Wajo, sebuah daerah yang dikenal dengan kekayaan budaya Bugis dan semangat gotong royong yang tinggi, kembali menunjukkan sinergi luar biasa antara rakyat dan aparat negara dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-124.

Wajo juga kaya akan situs sejarah dan religi. Jejak kejayaan Kerajaan Wajo dapat ditelusuri melalui bangunan bersejarah, makam raja-raja, serta nilai-nilai luhur yang masih dijaga oleh masyarakatnya dan pembangunan di wilayah ini tidak bisa dilepaskan dari tradisi dan budaya yang melekat turun-temurun.

Wajo, Jejak Peradaban Bugis yang Tetap Hidup di Tengah Modernisasi

Kabupaten Wajo, yang terletak di jantung Provinsi Sulawesi Selatan, merupakan daerah yang sarat akan sejarah dan kebudayaan. Daerah ini dikenal sebagai pusat penting dalam peradaban Bugis, terutama karena keberadaan Kerajaan Wajo yang berdiri sejak abad ke-15. Hingga kini, warisan budaya Bugis masih terasa kental dalam kehidupan masyarakat, mulai dari sistem pemerintahan adat hingga nilai-nilai seperti siri’ na pacce—sebuah filosofi hidup yang menekankan harga diri dan solidaritas sosial.

Secara geografis, Wajo menawarkan bentang alam yang beragam, mencakup danau, dataran rendah, serta kawasan perbukitan. Salah satu ikon alamnya yang paling menonjol adalah Danau Tempe, danau air tawar terbesar kedua di Sulawesi. Danau ini tidak hanya menjadi pusat keanekaragaman hayati, tetapi juga sumber utama mata pencaharian warga setempat.

Tak hanya dikenal dengan keindahan alam, Wajo juga menyimpan potensi ekonomi kreatif yang kuat. Kabupaten ini merupakan salah satu sentra kerajinan tenun sutra di Indonesia. Di daerah seperti Sengkang, tradisi menenun masih dijaga dengan baik, menjadikannya daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Dalam upaya membangun wilayah yang maju tanpa meninggalkan akar budayanya, pemerintah Kabupaten Wajo mendorong peningkatan mutu pendidikan, infrastruktur, serta layanan publik. Semua ini dilakukan dengan semangat mempertahankan identitas lokal di tengah laju modernisasi.

Satgas TMMD ke-124 Kodim 1406 Wajo berjibaku memperbaiki jembatan di Desa Temmabarang, Kecamatan Penrang, Kabupaten Wajo

Dengan kekayaan budaya, keindahan alam, serta keramahan warganya, Wajo bukan hanya menjadi destinasi wisata, tapi juga sebuah potret utuh tentang bagaimana tradisi dan kemajuan bisa berjalan beriringan.

Di tengah kehidupan masyarakat yang sebagian besar bergantung pada sektor pertanian, perikanan, dan kerajinan tradisional, kehadiran TMMD menjadi angin segar bagi desa-desa yang masih tertinggal dari segi infrastruktur dan akses pelayanan dasar. Jalanan yang dahulu sulit dilalui, kini mulai terbuka dan menghubungkan dusun ke pusat ekonomi. Jembatan-jembatan kecil yang dulunya hanya berupa batang kayu, kini diganti dengan konstruksi kokoh hasil kerja sama antara TNI dan warga.

Membangun Sinergitas Melalui TMMD dengan Kearifan Lokal

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti Desa Temmabarang, Kecamatan Penrang, Kabupaten Wajo. Di antara ladang dan jalan berlumpur, terdengar suara cangkul menghantam tanah, beton dicampur, dan tawa kecil anak-anak desa yang menyambut barisan tentara dengan hormat dan rasa ingin tahu.

Inilah wajah lain dari TNI, bukan di medan perang, melainkan di tengah masyarakat, bekerja membangun desa dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-124 yang digelar oleh Kodim 1406/Wajo. Sebuah program lintas sektoral yang bertujuan menjawab kebutuhan dasar masyarakat desa sekaligus mempererat hubungan antara TNI dan rakyat.

“Kami hadir bukan sebagai tamu, tetapi sebagai keluarga. TMMD ini adalah bentuk nyata kemanunggalan TNI dan rakyat,” tegas Dandim 1406/Wajo, Letkol Inf Wahyu Yunus sekaligus Dansatgas TMMD.

TMMD ke-124 Kodim 1406 Wajo menerjunkan alat berat untuk memudakan pengerjaan talud dan jembatan di Desa Temmabarang

Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) di Desa Temmabarang, Kabupaten Wajo, tidak sekadar menghadirkan tumpukan material bangunan, tetapi juga membawa angin segar bagi warga. Jalan-jalan yang sebelumnya sempit dan berlumpur kini perlahan diperbaiki, membuka akses penting bagi hasil pertanian masyarakat agar lebih mudah menuju pasar. Rumah-rumah yang semula tak layak huni direnovasi, fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) umum dibangun demi menunjang kesehatan lingkungan. Anak-anak sekolah kini bisa berangkat lebih pagi tanpa rasa khawatir terpeleset di jalan becek.

Namun, program ini tak hanya fokus pada perbaikan fisik semata. Para prajurit yang tergabung dalam TMMD juga aktif memberikan penyuluhan mengenai berbagai isu penting, mulai dari nasionalisme, teknik pertanian, kesehatan masyarakat, hingga bahaya penyalahgunaan narkoba. Pendekatan berbasis kearifan lokal menjadi landasan utama untuk menyatukan beragam lapisan masyarakat dalam satu visi besar: meningkatkan taraf hidup bersama.

Kegiatan sosial juga turut digelar. Di masjid, para prajurit berbagi pengetahuan agama. Sementara itu, balai desa dijadikan pusat layanan kesehatan bagi lansia, termasuk pengobatan gratis. Tidak ada batas antara aparat dan warga. Kebersamaan dan kekeluargaan tampak jelas dalam setiap aktivitas.

“TMMD bukan sekadar membangun infrastruktur, tapi juga menumbuhkan kepercayaan dan harapan di tengah masyarakat. Kami datang bukan hanya untuk menyelesaikan proyek, tetapi untuk hidup bersama rakyat dan memahami kondisi mereka,” ujar Letkol Inf Wahyu Yunus, Komandan Kodim 1406/Wajo yang juga menjabat sebagai Dansatgas TMMD ke-124.

Meski hanya berlangsung selama satu bulan, dampak kegiatan ini diyakini akan bertahan lama. Anak-anak desa kini memiliki panutan baru: sosok tentara yang tak hanya membawa senjata, tetapi juga membawa semangat dan motivasi.

Untuk mendukung pelaksanaan program ini, Pemerintah Kabupaten Wajo mengalokasikan anggaran sebesar Rp1.751.400.000 dalam APBD Pokok 2025. Dana tersebut diperuntukkan bagi pembangunan infrastruktur seperti peningkatan jalan kelas C, pembangunan talud, dan jembatan di Desa Temmabarang. TMMD dijadwalkan berlangsung hingga 4 Juni 2025.

Bupati Wajo, Andi Rosman, menyampaikan harapannya agar TMMD menjadi wujud sinergi antara pemerintah dan berbagai pihak, demi menciptakan hasil nyata yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

Bupati Wajo, Andi Rosman mendukung penuh kegiatan TMMD ke-124 Kodim 1406 Wajo di Desa Temmabarang demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Selain kegiatan fisik, TMMD kali ini juga menyasar program sosial seperti penanggulangan kemiskinan ekstrem, penanganan stunting, anak tidak sekolah, serta kebersihan dan keindahan lingkungan, yang merupakan bagian dari program 100 hari kerja Pemkab Wajo.

Desa Temmabarang, Kecamatan Penrang, Kabupaten Wajo sebuah desa yang dulu hanya dikenal sebagai titik kecil di peta, kini menjadi saksi nyata kebersamaan antara TNI dan masyarakat. Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-124 membawa perubahan signifikan yang tak hanya terlihat pada infrastruktur, tetapi juga dalam semangat dan harapan warga.

Warga setempat sangat antusias berjibaku membantu Satgas TMMD ke-124 Kodim 1406 Wajo

Sejak awal April 2025, personel Kodim 1406/Wajo bersama warga setempat bahu membahu membuka akses jalan sepanjang dua kilometer yang menghubungkan dusun-dusun terisolasi. Jalanan yang dulunya berlumpur kini berubah menjadi jalur penghubung ekonomi. Anak-anak dapat pergi ke sekolah tanpa khawatir, petani lebih mudah mengangkut hasil bumi mereka.

Namun TMMD bukan hanya soal beton dan semen. Di masjid dan balai desa, para prajurit memberikan penyuluhan tentang pertanian, wawasan kebangsaan, stunting, dan bahaya narkoba. Ada juga pelayanan kesehatan gratis yang menyentuh ratusan warga, terutama lansia dan anak-anak.

Di desa kecil ini, TMMD bukan sekadar program tahunan. Sinergitas dalam program TMMD adalah kisah nyata tentang cinta tanah air, yang dimulai dari desa. Di bawah terik matahari yang membakar ladang dan pematang, tampak sosok-sosok berseragam loreng bercampur dengan warga desa. Mereka mengaduk semen, memanggul batu, menata batako, dan sesekali melempar canda. Itulah wajah kebersamaan yang hangat dalam pelaksanaan TMMD ke-124 Kodim 1406/Wajo.

Di Desa Temmabarang, Kecamatan Penrang, batas antara tentara dan rakyat seolah lenyap. Tak ada sekat. Tak ada jarak. Para prajurit Satgas TMMD bekerja bahu-membahu bersama warga, menyelesaikan pembangunan jalan, jembatan, hingga rumah layak huni. Kebersamaan itu bukan dibuat-buat, melainkan tumbuh dari rasa gotong royong yang tulus.

Satgas TMMD ke-124 Kodim 1406 Wajo terus bekerja keras merampungkan pekerjaan sesuai target

Kebersamaan menjadi kunci. Setiap hari, prajurit TNI tinggal bersama warga, makan bersama, dan bekerja bersama. Mereka bukan hanya membangun fisik desa, tetapi juga menumbuhkan rasa saling percaya dan cinta tanah air.

TMMD di Temmabarang adalah bukti bahwa membangun Indonesia bisa dimulai dari desa. Bukan hanya dengan alat berat, tetapi juga dengan hati.

Jalan Harapan TMMD Kodim 1406/Wajo Buka Akses dan Mimpi Warga Desa Terpencil Tingkatkan Ekonomi dan Infrastruktur Desa Temmabarang

Di pelosok Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, tepatnya di Desa Temmabarang, ada jalan tanah yang dulu hanya bisa dilalui saat musim kemarau. Saat hujan datang, jalan itu berubah menjadi lautan lumpur, memutus akses anak-anak ke sekolah, petani ke pasar, dan warga ke pusat kesehatan. Namun kini, harapan itu tak lagi sebatas angan, berkat program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-124 oleh Kodim 1406/Wajo.

Sumur bor menjadi salah satu program TMMD ke-124 Kodim 1406 Wajo, dengan harapan agar masyarakat tidak lagi kesulitan memperolah air bersih

Program ini tidak sekadar pengerasan jalan sepanjang lebih dari 2 kilometer di tiga dusun di Desa Temmabaran. Pengerasan jalan ini membuka masa depan lebih cerah bagi warga maupungenerasi muda di wilayah yang selama ini terisolasi.

Di balik dentuman alat berat dan peluh para prajurit, ada senyum warga yang tak bisa menyembunyikan rasa syukur. Mereka menyaksikan perubahan nyata. Jalan yang dulunya tanah becek bila musim penghujan kini berlapis aspal menandai awal perubahan besar.

“Ini bukan sekadar jalan, ini adalah harapan,” ujar Pak Haji Rahman, tokoh masyarakat setempat. Ia mengenang bagaimana dulu istrinya harus ditandu berjam-jam saat melahirkan karena sering terperosok di kubangan lumpur. Kini, kendaraan roda empat bisa melaju dengan mudah, bahkan hingga ke sawah tempat warga menggantungkan hidup.

“Kalau dulu hujan sedikit saja, anak-anak tidak bisa sekolah. Sekarang Alhamdulillah, sudah bisa lewat dengan motor dan mobil,” ujar Ridwan, seorang warga setempat, sambil menyeka peluh setelah ikut membantu gotong-royong.

Menjemput Air di Tengah Harapan

Di bawah terik matahari siang, seorang ibu bernama Lastri memikul jeriken air sejauh hampir satu kilometer dari sumur desa menuju rumahnya di Temmabarang. Sudah bertahun-tahun ia menjalani rutinitas ini, sebuah kenyataan yang tak terhindarkan bagi banyak warga desa yang hidup di atas tanah yang kering dan berbatu. Air, yang bagi sebagian orang mungkin hal biasa, adalah harta paling berharga bagi masyarakat Temmabarang.

Desa ini bukan tidak memiliki sumber air, tetapi akses dan jaraknya membuat warga harus berjuang setiap hari. Kekeringan musiman, saluran air yang tak memadai, dan keterbatasan infrastruktur membuat kebutuhan dasar ini menjadi tantangan utama.

Namun, di pertengahan tahun ini, secercah harapan mulai muncul melalui Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-124. Bagi Satgas TMMD Kodim 1406/Wajo, program ini menjadikan ketersediaan air bersih sebagai salah satu prioritas utama. Sumur Bor yang dibuat dalam program TMMD 124 ini, juga sebagai tindak lanjut dari Program unggulan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjutak, agar masyarakat di wilayah terpencil dapat dengan mudah mengakses air bersih sebagai kebutuhan mendasar.

“Air adalah sumber kehidupan. Kami melihat langsung bagaimana sulitnya warga mendapatkannya. TMMD hadir untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat “ Ujar Dandim 1406/Wajo Letkol Inf Wahyu Yunus, saat ditemui di lokasi pengeboran sumur dalam yang menjadi bagian dari proyek.

Melalui TMMD ke-124, dilakukan pembangunan sarana air bersih berupa sumur bor, pipanisasi, serta tandon air di titik-titik strategis desa. Program ini tak hanya dibangun oleh aparat TNI, tetapi juga melibatkan gotong royong warga, menciptakan rasa kepemilikan dan kebersamaan.

Rasa haru menyelimuti warga ketika air pertama kali mengalir dari keran yang baru dibangun. “Rasanya seperti mimpi. Sekarang kami tak perlu berjalan jauh lagi. Anak-anak kami bisa mandi dan sekolah dengan bersih. Terima kasih TNI,” ungkap Pak Sarman, salah satu tokoh masyarakat.

TMMD ke-124 di Temmabarang bukan sekadar program pembangunan fisik, melainkan bukti bahwa kehadiran negara bisa menyentuh hingga akar kebutuhan rakyat. Dalam aliran air itu, mengalir pula semangat baru, harapan, dan kehidupan yang lebih layak bagi masyarakat.

Kehadiran Negara Dalam Membangun Kesadaran Berbangsa dan Bernegara

TMMD bukan hanya soal fisik. Di sela pembangunan, prajurit TNI menggelar penyuluhan kesehatan, pendidikan, dan wawasan kebangsaan. Anak-anak desa bermain bersama para tentara, belajar sambil tertawa, sementara orang tua mereka belajar tentang pertanian modern dan pola hidup sehat sebagai sasaran non fisik.

Suasana berbeda terasa dalam kegiatan penyuluhan ini. Warga yang sehari-harinya disibukkan dengan aktivitas bertani dan berkebun, kini duduk berjejer mendengarkan materi yang menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari wawasan kebangsaan, bahaya narkoba, hingga pentingnya menjaga kesehatan keluarga dan lingkungan. Para nara sumber dari TNI dan instansi terkait berbicara lugas, dengan pendekatan humanis yang mudah dicerna masyarakat.

Tak hanya membangun infrastruktur, TMMD ke-124 Kodim 1406 Wajo juga bertekad membangun sumber daya manusia (SDM), salah satunya dengan menggelar Penyuluhan Pertanian yang diikuti oleh masyarakat Desa Temmabarang

Letkol Inf Wahyu Yunus, Dandim 1406/Wajo sekaligus Dansatgas TMMD, menegaskan bahwa TMMD bukan hanya tentang membangun infrastruktur, tetapi juga membangun sumber daya manusia. “Penyuluhan ini adalah bagian dari upaya kami menyentuh hati dan pikiran masyarakat. Kami ingin mereka tidak hanya punya jalan bagus, tapi juga pemahaman yang baik soal hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ujarnya.

Warga pun menyambut hangat kegiatan ini. Aisyah (42), warga setempat mengaku baru pertama kali mengikuti penyuluhan pertanian seperti ini. “Saya senang, banyak hal baru yang saya dapatkan. Ternyata sangat bermanfaat bagi kami ibu-ibu di desa untuk lebih dapat memanfaatkan lahan-lahan di rumah untuk berkebun sayuran dan buah-buahan,” katanya sambil tersenyum.

Program TMMD ke-124 ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bentuk nyata kemanunggalan TNI dan rakyat. Melalui kegiatan seperti penyuluhan ini, TNI hadir bukan hanya sebagai penjaga kedaulatan, tetapi juga sahabat dan guru bagi masyarakat desa.

Kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat ini menjadi cermin nyata semangat gotong royong. Program TMMD Kodim 1406/Wajo adalah bukti bahwa pembangunan bisa menyentuh akar rumput, membawa perubahan nyata yang bisa dirasakan langsung.

Ketua Tim Wasev, Kolonel Kav Otto Sollu, menjelaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari tugas pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program TMMD, guna memastikan bahwa seluruh kegiatan berjalan sesuai dengan rencana dan memberi dampak positif bagi masyarakat.

“Kami hadir untuk melihat secara langsung sejauh mana progres dan capaian pelaksanaan TMMD di lokasi ini. Kami ingin memastikan bahwa semua sasaran yang telah ditetapkan, baik fisik maupun nonfisik, berjalan optimal dan sesuai harapan masyarakat,” ujar Kolonel Otto Sollu.

Ketua Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) bersama rombongan meninjau langsung kegiatan TMMD ke-124 Kodim 1406 Wajo

Dalam kunjungan tersebut, tim melihat secara langsung proses pembangunan jalan penghubung antar dusun, perbaikan fasilitas umum, dan pelaksanaan kegiatan nonfisik seperti penyuluhan kesehatan, wawasan kebangsaan, serta pemberdayaan masyarakat.

Program TMMD ke-124 ini merupakan kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat, dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan warga desa serta memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat.

Dengan kehadiran Tim Wasev, diharapkan pelaksanaan TMMD di Desa Temmabarang dapat berjalan lebih efektif dan efisien, serta mampu menjadi contoh nyata sinergi antara aparat dan masyarakat dalam membangun daerah tertinggal menuju kehidupan yang lebih baik.

Ketua Tim Wasev, Kolonel Kav Otto Sollu, dalam keterangannya menjelaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari tugas pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program TMMD, guna memastikan bahwa seluruh kegiatan berjalan sesuai dengan rencana dan memberi dampak positif bagi masyarakat.

“Kami hadir untuk melihat secara langsung sejauh mana progres dan capaian pelaksanaan TMMD di lokasi ini. Kami ingin memastikan bahwa semua sasaran yang telah ditetapkan, baik fisik maupun nonfisik, berjalan optimal dan sesuai harapan masyarakat,” ujar Kolonel Otto Sollu.

Tim Wasev mengunjungi rumah milik warga bernama Sira (65), yang menjadi obyek renovasi dalam program TMMD ke-124 Kodim 1406 Wajo

Program TMMD ke-124 ini merupakan kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat, dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan warga desa serta memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat.

Dengan kehadiran Tim Wasev, diharapkan pelaksanaan TMMD di Desa Temmabarang dapat berjalan lebih efektif dan efisien, serta mampu menjadi contoh nyata sinergi antara aparat dan masyarakat dalam membangun daerah tertinggal menuju kehidupan yang lebih baik.

“Program TMMD ini benar-benar menyentuh langsung kebutuhan masyarakat kami. Kami menyambut baik dan berterima kasih atas perhatian serta kerja keras TNI melalui kegiatan ini. Kami juga mengapresiasi kedatangan Tim Wasev yang melakukan pemantauan langsung di lapangan,” ujar Camat Penrang Eka Syafran.

Sira (65), warga Desa Temmabarang menyambut haru seraya berterima kasih kepada TNI, khususnya Satgas TMMD ke-124 Kodim 1406 Wajo atas bantuan renovasi rumah miliknya

Kepala Desa Temmabarang Andi Page juga turut menyampaikan rasa terima kasih atas kegiatan TMMD yang tengah berlangsung di desanya. Menurutnya, selain memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan fisik seperti jalan dan fasilitas umum lainnya, program TMMD juga meningkatkan kebersamaan antara masyarakat dan TNI.

Ketika TMMD ke-124 resmi ditutup nanti, mungkin para prajurit akan kembali ke markas. Tapi jalan yang telah dibuka, rumah yang telah diperbaiki, dan semangat gotong-royong yang telah dihidupkan akan terus tinggal di hati masyarakat Temmabarang.

Kini, ketika pelaksanaan TMMD ke-124 memasuki masa akhir, masyarakat Temmabarang memiliki sesuatu yang tak ternilai, jalan baru, fasilitas umum, pengetahuan, dan hubungan emosional yang erat dengan para prajurit. (FIRMANSYAH/Wartawan Utama Dewan Pers)

Share :

Baca Juga

Artikel

Dunia Jurnalistik Memang Perlu Dibenahi

Artikel

Que Sera Sera

Artikel

Pendidikan dan Peran Perempuan Diera Globalisi

Artikel

Pelaksanaan Syarat Sah Sholat Jamak Qhosor

Artikel

79 Tahun HMI: Dari Kaderisasi ke Demokrasi Etis di Tengah Krisis Keteladanan Politik

Artikel

Ada Apa Dengan Dewan Pers (2)

Artikel

PELAKSANAAN KEPEMILUAN YANG UNIK

Artikel

JADILAH PEMIMPIN YANG BAIK, BERANI DAN BERTANGGUNG JAWAB